Wali Murid SMA di Gresik Was-Was Tarikan Uang Gedung, Begini Kata Dindik

gresik24jam.org

Gresik24Jam - Wali murid SMA Negeri di Gresik merasa was-was setelah putra-putrinya diterima di sekolah negeri. Sebab, selain harus memberi seragam sekolah, wali murid resah karena masih dihantui dengan adanya isu iuran uang gedung dan sarana prasarana sekolah.

Keresahan wali murid SMA Negeri di Gresik itu muncul ketika para siswa menerima dikumpulkan untuk membawa persyaratan kegiatan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS). Seperti wali murid di SMA Negeri Kebomas harus menyiapkan dana sebesar Rp 1,8 juta untuk siswa laki-laki dan Rp 2,2 juta untuk siswa perempuan.

Dana sebesar itu digunakan keperluan siswa, mulai dari kain seragam abu-abu putih, seragam olah raga, kain seragam batik khusus sekolah, kain jas almamater, kaos kaki, emblem sekolah.

"Semuanya lengkap kebutuhan seragam siswa yang laki-laki Rp 1,8 juta sedangkan yang perempuan ada tambahan kerudung sehingga tambah menjadi Rp 2,2 juta," kata seorang wali murid yang menjemput putrinya di SMA Negeri Kebomas, Kamis (5/7/2018).

Selain kebutuhan kelengkapan seragam siswa, wali murid masih was-was dengan kebiasaan adanya uang gedung dan bantuan sosial untuk perlengkapan sekolah.

Sebab, setiap tahun ajaran baru ada saja bentuk tarikan kepada wali murid. Namun, harapan wali murid tidak ada lagi pungutan uang gedung dan bantuan sosial sarana prasarana sekolah.

"Sampai saat belum ada kabar apakah ada uang gedung atau tidak. Tapi masih khawatir dan was-was saja, sebab tidak ada pemberitahuan yang jelas," imbuh wali murid yang enggan disebut namanya.

Begitu juga disampaikan wali murid SMA Negeri Kebomas yang menunggu putranya pulang menerima pembekalan MPLS mengatakan, sekolah jaman sekarang kebanyakan seragam, sehingga banyak dana yang dikeluarkan wali murid untuk pendaftaran siswa baru.

Menurut wali murid, banyaknya seragam sekolah yaitu berbagai jenis seragam untuk dikenakan siswa sekolah. Mulai seragam abu-abu putih, seragam batik khusus sekolah, seragam jas almamater, olah raga dan seragam pramuka.

"Seharusnya keperluan seragam dikembalikan seperti dulu. Hanya seragam abu-abu putih, seragam pramuka dan seragam olah raga. Seragam batik dan jas almamater itu dihapus saja," imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur Wilayah Kabupaten Gresik, Puji Astuti, menyatakan bahwa dari Pemprov Jawa Timur tidak menanggung biasa seragam siswa.

Para wali murid bisa membeli seragam sekolah bebas di mana saja, yakni bisa di sekolah dan bisa di tempat umum.

"Seragam batik sekolah dan jas almamater itu kebijakan sekolah masing-masing. Itu identitas sekolah," kata Puji saat akan berkunjung ke Kabupaten Lamongan.

Lebih lanjut, Puji menegaskan bahwa wali murid SMA Negeri di Gresik tidak ada biaya iuran uang gedung. Sebab, sarana gedung sekolah sudah menjadi tanggung jawab pemerintah.

"Uang gedung tidak ada. Itu tanggung jawab pemerintah," imbuhnya.

Puji juga mengatakan bahwa untuk Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) sesuai Pergub Jatim besarnya hanya Rp 95.000 perbulan.

"SPP sesuai Peraturan Gubernur itu hanya Rp 95.000," katanya.


Artikel ini telah tayang di surabaya.tribunnews.com dengan judul Wali Murid SMA di Gresik Was-Was Tarikan Uang Gedung, Begini Kata Dindik, http://surabaya.tribunnews.com/2018/07/05/wali-murid-sma-di-gresik-was-was-tarikan-uang-gedung-begini-kata-dindik.


Jangan lupa share di akun sosmedmu yah..
Terima kasih telah berkunjung ke Gresik 24 Jam.
Facebook Page : Gresik 24 Jam
Instagram: @gresik24jam

Iklan Bawah Artikel